Powered By Blogger

Senin, 15 Agustus 2011

Ramadhan Pertamaku mencari Uwi???

Jumat pagi seperti biasanya ada senam pagi di Kebun Raya tempatku berkerja. Satu’ dua’ tiga’ geleng kiri geleng kanan.. pegel, tapi tetap asyik dengan iringan lagu ‘melinda "ada bayangmu"’. Semangatku senam jumat ini meluap, karena siang ini, 2 hari menjelang puasa aku ada rencana mau balik ke kampung halamanku (sragentina: alias kota sragen). Maklum udah 2 bulan aku ndak pulang, (untung belum 2 taun dikira bang toyib nanti,) . Sehabis senam tiba-tiba pak pimpinan memanggil, “mas tri (tegasnya)” besuk ada penelitian mencari uwi di wilayah Nganjuk,” WADUH dalam batinku”. Ada yang tau ndak uwi??? Itu tu sejenis tanaman Dioscorea (apa itu dioscorea.. cari dikamus biologi aja klo pengen tau). Maklum tugasku di Kebun Raya sebagai peneliti dan baru diterima sebagai CPNS bulan januari kmaren. Sebenarnya aku sudah menyiapkan 2 dus Bakpao Telo, 8 dus Bakpia Telo dan 10 kresek kripik tales buat oleh-oleh. Tapi mau gimana lagi itu dah tugas, ya harus saya laksanakan.

Jumat siang aku persiapan solanya penelitianya lumayan lama yaitu 5 hari, Belum lagi nyiapin alat-alatnya, Haduh pusing, ada GPS.. yg sebenarnya belum bisa pake. Akhirnya sampe malam persiapan udah selesai. Hari yang dinantikan akhirnya datang juga sabtu (30 juli) jam 6 pagi kita (tim eksplorasi 3 orang) dengan mobil melaju ke nganjuk untuk mengadakan penelitian. Jam 11 siang kita sampai di Lokasi, Seperti reporter tv aku mengadakan wawancara dengan masyarakat untuk mengetahui posisi dimana si UWI ini dapat ditemukan akhirnya di hari pertama, 2 kecamatan dapat terlampaui, hari berikutnya kita dapat melampui 3 kecamatan. Nah hari berikutnya lagi hari senin (1 Agustus) merupakan awal puasa. Pada Minggu malam kita mencari nasi bungkus untuk sahur, banyak warung yang kita kunjungi, karena setiap ditanya nasinya habis..” busyet masak sudah langka nasi disini”. Akhirnya kami menemukan warung yg tertulis” burung dara, mujahir, ayam goreng, tempe penyet” akhirnya kami menjatuhkan pilihan ke tempe terong penyet untuk di bungkus. Malam sudah larut tapi knapa mata belum bisa terpejam padahal esoknya harus menjelajah lagi. Dalam hatiku berfikir di rumah bapak ibu sahur apa ya. Ini merupakan sahur pertamaku tanpa mereka.


Sahur- sahur... sahurr-sahurr...

Suara anak-anak berkeliling di tempat penginapan kami, kamipun membuka bungkusan nasi. Dengan lahap aku makan, supaya energiku dapat mencukupin tugas hari ini. Senin pukul 7 pagi kami berangkat mejelajah kembali, dan ternyata lokasi yang kami observasi merupakan hutan berbukit. Kami harus menyusurinya, dengan membawa cangkul, linggis,dan alat lain kami mulai melakukan penelitian. Aduh ribetnya aku hrs mencatat suhu, ketinggian, kelembapan, ph, garis lintang, garis bujur... belum lagi menggali uwinya untuk dikoleksi dikebun raya. Rasa haus dan lapar tidak terasa saat dilokasi, Panasnya matahari membuat keringat semakin mengucur (lebayy).. Hari pertama puasa yang berbeda dari sebelumnya, biasanya kalo dulu dirumah.. hari pertma kaya gini kegiatanku didominasi nonton tv, atau ndak ya tidur. “kembali ke penggalian uwi”. Akhirnya kami berhasil mendapatkan jenis Dioscorea lain kali ini kami menemukan uwi bangkulit, uwi kelopo, gembili, dan gadung( kata yang asing ya, Klo pengen tau apa itu, cari aja informasinya di internet). bersama 2 bapak tim eksplorasi , saya beristirahat sebentar untuk memulihkan stamina (Nyempetin buka fb buat otak menjadi fresh, untung pake SIMPATI jd walaupun di pedesaan sinyalnya masih terjangkau "bukan bermaksud iklan loh"). perjalanan kami lanjutkan untuk menyusuri daerah lain. Kami memutuskan untuk balik ke penginapan karena sudah pukul 5 sore. Kami langsung bergegas untuk persiapan buka. Terdengar suara azan, kamipun langsung menuju masjid. Setelah solat kami mengintari alun2 nganjuk kami dan mencari menu berbuka “Mau buka apa? tegas bapak Bogi (tim eksplorasi)”, saya jawap : “apa ajalah pak yang penting bukan pecel, soalnya beberapa hari ini kan makanya pecel terus, lihat ni efeknya muka saya bertaburan bintang (alias jerawat)”. Si bapak pun tertawa. Setelah berbuka kami melanjutkan tarawih kemudian beristirahat.

Hari selasa (2 Agustus) merupakan hari terakhir eksplorasi, busyettt.. ternyata hari ini pun kami harus melewati hutan kembali. Jalan berbatu membuat mobil kami berjalan seperti korsi goyang...

akhirnya kami menemukan warga dan mencoba menanyakan keberadaan uwi. Ternyata dilokasi ini masih dijumpai banyak jenis, kamipun langsung menggali-gali tanah, (klo punya doraemon sudah kupinjem alatnya untuk mengeluarkan umbi uwinya, soalnya tanahnya keras.). sinar mentari menerpa wajah manisku (he..he..) terasa panas pagi ini tapi aku tetap semangat. Hari sudah mulai siang kamipun pulang kepenginapan dan bergegas mengemas semua peralatan. saking banyaknya mobil terisi penuh dengan barang bawaan kami. Akhirnya pukul 5 sore sampai di Kebun Raya Purwodadi Pasuruan, alangkah senang hatiku.. 1 misi terselesaikan kami pulang ke satker kami dengan membawa hasil eksplorasi untuk di konservasi, maklum tanaman Dioscorea sudah mulai jarang ditemukan di masyarakat. Semoga hasil eksplorasi yang kami dapatkan di bulan ramadhan ini mendapat berkah. Sayapun kembali ke kos dengan membawa segudang pengalaman berharga.

“Ternyata ada hikmah dibalik ketidakpulangan ke kampung halamnku. Sabar ya bapak-ibu. Minggu depan aku pasti pulang aku hanya pergi tuk sementara. Kudoakan kalian sehat dan bahagia”.

2 komentar:

  1. Dari segala penderitaan (hah... penderitaan???) wkwkwkwk...
    semoga banyak hal yang bisa didapat, semoga lain kali bisa terencana dengan baik dan tidak semendadak itu....
    ayo... perbaiki bersama!!!

    BalasHapus
  2. bener bune salman... terlalu mendadak dan tanpa perencanaan.. semoga kedepanya bisa lebih baik lagi, dan dengan rencana matang. pokoknya untuk KRP semua akan kulakukan... he..he..

    BalasHapus